Permen No .1 Tahun 2015 tentang larangan penangkapan lobster, kepiting dan rajungan bertelur yang dikeluarkan Menteri kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti sempat membuat gerah sejumlah Nelayan dan pembudidaya rajungan dan kepiting. ( termasuk didalamnya kepiting bakau )

Komoditas kepiting yang mangandalkan dari alam menjadi penyebab mengapa Menteri Kelutan dan Perikanan mengeluarkan larangan penangkapan kepiting bertelur. Upaya Budidaya kepiting bakau mulai dari proses pembenihan dan pembesaran pun telah dilakukan Ditjen Perikanan Budidaya KKP melalui Balai perikanan Budidaya Air Payau ( BPBAP ) Takalar. Hingga kini, kegiatan iotu sudah membuahkan hasil cukup gemilang.

Permintaan pasar kepiting yang tinggi membuat masyarakat berlomba – lomba melakukan penangkapan secara berlebihan. bukan hamnya indukannya saja yang ditangkap kemudian dijual, tapi kepiting yang kecil – kecil ( baru Pecah telur pun ) ikut jadi korban.

” Permintaan kepiting dan rajungan sekitar 8 ribu ton pertahun. kita baru mampu memproduksi sekitar 4 ribu ton pertahun. kepiting dan rajungan ini juga diminati di Amerika serikat ( AS ),” kata Dirjen Perikanan Budidaya, Slamet Soebyakto, disela sebuah diskusi, di jakarta, belum lama ini. i alam

Kepiting dan rajungan masih banyak mengandalkan masih banyak mengandalkan dari alam, dan hal ini membuat sumberdaya kepiting dan rajungan mulai menurun. Nah, untuk mengatasi hal itu Ditjen Perikanan Budidaya KKP sejak tahun 2004 mulai melakukan pembenihan kepiting bakau.