Salah satu rumput laut dari kelas Chlorophyceae yaitu Caulerpa merupakan sumber daya hayati, rumput laut caulerpa dikenal dengan lawi-lawi (Sulawesi) atau latoh (Jawa) sebenarnya sudah dikenal luas oleh  kalangan masyarakat pesisir karena beberapa jenis dari rumput laut ini dimanfaatkan secara langsung maupun tidak langsung sebagai sumber bahan pangan alami sehari-hari, seperti di Indonesia, Malayasia, Jepang, Vietnam, Philipina, China, dan korea.  Di Sulawesi lawi-lawi (Caulerpa) dimanfaatkan langsung sebagai bahan makanan dalam kondisi segar.  Pada awalnya lawi-lawi (Caulerpa) diperoleh masyarakat langsung dari laut, akan tetapi pada saat ini sudah dibudidayakan karena memiliki nilai yang sangat menguntungkan walaupun dijual di pasar lokal. Pada perkembangannya ternyata lawi-lawi ini selain sebagai bahan makanan juga sudah banyak dimanfaatkan untuk keperluan medis karena mengandung antioksidan. Prospek budidaya lawi-lawi saat ini sangat menjanjikan dan serapan pasar lokal sudah memberikan keuntungan gairah bagi para pembudidaya di Sulawesi Selatan.

Sebagai salah satu makroalga dari kelas Chlorophyceae yaitu Caulerpa. Jenis lawi-lawi yang tumbuh dan bisa dikembangkan BPBAP Takalar ada 3 yakni Bulaeng (Caulerpa lentillifera), sedangkan jenis lainnya Bune (C. Racemosa) dan C. Lipan (C. sertulariodes) semuanya merupakan genus Caulerpa.  tumbuh dengan baik di Teluk Laikang, namun jenis yang dominan tumbuh adalah jenis C. lentillifera (Bulaeng) sedangkan jenis lainnya Bune (C. Racemosa) dan C. Lipan (C. sertulariodes) tumbuh sedikit dan memang pengalaman di Filipina dan Vietnam yang banyak dimanfaatkan adalah jenis C. lentillifera (Bulaeng). 

Permintaan pasar Lokal saat ini semakin meningkat. disamping itu BPBAP Takalar bekerja sama dengan Asosiasi Rumput laut Indonesia ( ARLI ) melakukan ekspor lawi lawi ke Korea. permintaan tiap bulan juga tinggi dengan kurang lebih 100 Kg / bulan secara kontinyu.